• konseling pernikahan
  • konseling keluarga

8. Siapa Belahan Jiwa Anda? Who is your Soulmate?

Salah satu keputusan besar bahkan salah satu yang terbesar dalam hidup kita adalah bagaimana kita dapat menemukan pasangan hidup yang tepat. Siapa belahan jiwa kita, who is your soul mate?

Ada yang mengatakan jodoh di tangan Tuhan, Ya benar…sebenarnya segala sesuatu dalam hidup kita ada ditangan-Nya bukan? Tetapi bagaimana kita bergaul, membina relasi dan akhirnya menentukan siapa pasangan hidup kita ada ditangan kita sendiri. Dan salah satu keputusan terbesar yang akan kita ambil dalam hidup ini adalah dengan siapa kita menikah.

Menikah dengan orang yang tepat di saat yang tepat, tidak memberi garansi hidup bahagia selamanya (live happily ever after). Yang ada adalah kita mendapatkan partner yang dapat kita andalkan selama kita hidup di muka bumi ini untuk menghadapi baik masa susah maupun masa senang. Dengan memiliki partner yang tepat maka hidup yang menyenangkan menjadi lebih seru karena kita memiliki teman untuk berbagi kesenangan. Dan pada masa kesulitan, hidup menjadi lebih mudah dijalani karena kita tahu pasti bahwa kita memiliki seseorang yang mengerti dan menemani kita sepanjang masa yang sulit dan berjuang bersama untuk keluar dari kesulitan.

Tentu tidak mudah mencari dan mendapatkan partner seperti ini. Partner yang mau mengerti diri kita, mau menjalani hidup bersama kita seumur hidup sampai kita meninggal. Sebaliknya perikatan ini juga bersifat timbal balik, berarti kita juga mau terikat seumur hidup dengan partner kita baik dalam susah maupun senang.

Jadi sulitkah menemukan partner seperti ini dalam hidup? Yah tentu. Karena ada banyak sekali aspek yang harus digali dalam masa bergaul dan pendekatan hingga pacaran hingga ke masa konfirmasi dimana Anda yakin bahwa DIA lah yang dapat Anda andalkan untuk menjalani hidup dengan segala susah senangnya hingga maut memisahkan Anda berdua.

Banyak orang mau berbagi jika sedang senang tapi untuk mau berbagi di saat paling sulit dan gelap dalam hidup kita, tidak banyak yang mau. Banyak yang mau menikahi pria/wanita yang tampan/cantik, pintar, punya masa depan yang baik, dari latar belakang keluarga yang baik, dengan latar belakang pendidikan dan iman yang sepadan, memiliki hobby dan passion yang sama, cocok dalam sifat dan karakter. Namun masalahnya, tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang seperti itu. Dan tidak ada pasangan yang 100% cocok seperti itu. Berhati-hatilah jika kita menemukan orang seperti itu. Something that is so good to be true sometimes not true at all. Bukan berarti kita harus menggantungkan cita-cita kita mendapatkan pasangan yang kita inginkan. Tentu kita harus memiliki suatu standar dan harapan serta idealisme yang harus kita cari dan kita penuhi dari pasangan kita. Namun terkadang kita tidak dapat mengatur hati kita untuk jatuh cinta pada siapa. Ada peribahasa yang mengatakan Love is Blind, yang mana kurang lebih memang seperti itu. Cinta yang kekanak-kanak, cinta yang hanya mengharapkan romantisme sesaat biasanya terjebak dalam kebutaan untuk melihat realitas sesungguhnya.

Melihat realita adalah satu hal yang paling penting diantara puluhan hal penting lainnya saat kita memutuskan siapakan patner for life kita. Dan untuk dapat melihat realita maka kita harus bisa membedakan mana yang sesungguhnya, yang asli, yang sejati dengan hal mana yang palsu, yang dibuat-buat dan yang ditutup-tutupi. Semakin mampu kita menggali “keaslian” siapa sesungguhnya jati diri calon partner hidup kita maka akan semakin besar kemungkinan terhindar dari “kebutaan” atas nama cinta dan pada akhirnya akan membawa kita pada suatu kebijaksanaan untuk memutuskan apakah kekasih Anda adalah pasangan yang tepat.

Untuk menghindari begitu banyak airmata yang akan terjadi jika kita mengalami kesalahan dalam memilih partner seumur hidup maka Konseling Pra-Nikah ( Pre-Marital Counseling) merupakan satu hal yang sangat sangat penting untuk dilakukan. Konselor akan menuntun dan memediasi kedua orang yang akan masuk dalam pernikahan, untuk dapat melihat dengan jelas siapa diri mereka, apa ekspektasi mereka dalam lembaga pernikahan, apa ekspektasi mereka terhadap pasangan, apa aturan main yang akan diterapkan dalam lembaga pernikahan tersebut dan berbagai detil persiapan yang harus dengan matang dibicarakan dan direncanakan sebelum memasuki suatu lembaga yang sakral, yang diharapkan hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup, yaitu lembaga yang disebut dengan pernikahan. Termasuk pembahasan penting dalam 3 area yaitu love, passion dan intimacy.

Suatu kesalahan dalam memilih pendamping hidup tidak hanya akan membuat begitu banyak kesengsaraan bagi pihak yang menjalani ikatan tersebut tapi juga bagi generasi berikut. Bagi anak-anak korban perceraian. Yang biasanya membawa dampak luka batin yang cukup parah dan akan terbawa bekasnya hingga saat anak-anak ini dewasa kelak dan membina keluarga mereka sendiri. Jadi bisa dibayangkan bahwa “kerusakan” dan “luka” yang diakibatkan kesalahan memilih pasangan bisa berdampak ke beberapa generasi ke bawah. Alangkah baiknya jika hal ini dapat dicegah. Betapa akan membawa dampak yang jauh berbeda bagi generasi berikut jika mereka dapat lahir dan tumbuh dari keluarga yang orang tuanya rukun, saling mendukung, saling mencintai hingga maut memisahkan mereka. Orang tua yang bisa menjadi role model bagi anak tersebut membangun masa depannya.

Salah satu langkah penting dalam membina hubungan adalah bagaimana kita dapat melihat realitas sesungguhnya. Termasuk realita diri kita sendiri. Jujur pada diri kita sendiri. Mampu juga untuk melihat pasangan kita seperti apa adanya. Mampu untuk menerima pasangan apa adanya, dengan segala kebaikan dan keburukan. Baik sifat, karakter, temperamen, kebiasaan dalam diri. Yakin bahwa disaat yang terburuk, Anda akan tetap mencintainya dengan kadar cinta yang sama dengan di saat yang terbaik.

Sehingga saat dari awal menjalin relasi dengan seseorang yang kita anggap dapat menjadi partner seumur hidup, bersikaplah jujur. Bersikaplah apa adanya. Semakin Anda menjadi diri Anda sendiri, sejati, just the way you are …maka proses berpacaran hingga sampai pada proses konfirmasi bahwa Anda yakin Dialah pasangan yang tepat, menjadi lebih mudah dan lancar.

Just be the way you are…in good times and bad times and let your lover see you and make sure he or she willing to take you just the way you are. Tentu berlaku juga sebaliknya, pasangan kita harus mampu menjadi dirinya sendiri, tanpa takut bahwa menjadi diri sendiri akan membuat cinta berkurang atau malah hilang.

Orang yang mau menerima Anda apa adanya dengan tulus dan sejati dan Anda juga merasakan yang sama…..maka most likely pilihan Anda tidak salah.

Salam Sejahtera,
Elly Nagasaputra, MK, CHt
Personal & Marriage Counselor
www.konselingkeluarga.com
-healing hearts-changing life-


Info Kontak

Hubungi Kami untuk jasa konseling profesional.

elly@konselingpernikahan.com | SMS/ WA: 0818 - 0653-0253 | Pin BB No : 57130E38