• konseling pernikahan
  • konseling keluarga

7. Marah



Siapa diantara kita yang tidak pernah marah? Pasti semua pernah. Marah adalah salah satu bentuk emosi yang dikaruniakan Tuhan pada manusia. Hampir semua manusia pernah marah. Namun, setiap dari kita, marah dengan cara yang berbeda, demi alasan yang berbeda dan untuk tujuan yang berbeda.

Ada yang marah sekadar marah, sekadar melampiaskan dan mengeluarkan emosinya. Tanpa memikirkan apa tujuan dia marah. Ada yang marah kemudian diiringi dengan rasa bersalah karena merasa bahwa marahnya adalah salah, karena melukai orang yang dicintai baik fisik maupun psikis.

Ada yang juga merasa marahnya tidak dapat dikontrol dengan baik sehingga menimbulkan akibat samping yang merugikan. Ada juga yang sibuk bertanya-tanya, sebenarnya bolehkah kita marah? Sehat dan baikkah jika kita marah?

Ada juga yang sangat sulit untuk marah. Walaupun merasa marah, tidak berani menunjukkannya, bahkan dalam kadar yang parah, tidak berani menunjukkan ketidaksetujuan akan sesuatu.

Marah adalah salah satu bentuk emosi disamping berbagai emosi lain yang dimiliki oleh manusia normal. Antara lain sedih, kecewa, takut, bahagia, damai dan berbagai emosi lainnya. Jika marah diberikan kepada manusia, maka marah sebenarnya merupakan emosi yang baik dan berguna. Namun, banyak orang tidak setuju tentu. Banyak yang merasa bahwa dimarahi adalah suatu pengalaman yang tidak enak. Mengeluarkan amarah pun kadang merupakan pengalaman yang dianggap merugikan dan disesali oleh orang yang marah. Bahkan banyak orang yang masih senantiasa bergumul dengan marahnya, karena ketidakmampuan untuk mengendalikan marahnya. Mengakibatkan banyak konflik dan ketidakbahagiaan bagi orang disekelilingnya karena ketidakmampuan untuk mengendalikan kemarahan.

Sehingga timbul pertanyaan, jika marah itu baik, dalam batasan dan pengertian apa marah itu baik? Dalam hal seperti apa, marah merupakan hal yang baik dan membangun? Seberapa kita dapat mengetahui , apakah marah yang kita keluarkan pada seseorang akan menimbulkan akibat yang membangun daripada penghancuran yang semakin memperparah situasi?

Begitu pula dalam hubungan suami istri. Jika suami marah pada istri, baikkah hal itu pada relasi mereka di kemudian hari? Begitu pula istri pada suami. Belum lagi, jika kita merasa marah pada orang yang lebih tua dan lebih kita hormati. Begitu pula seorang atasan yang marah pada team kerjanya. Atau sebaliknya, kita yang terkadang marah pada pihak yang lebih berkuasa dan berotoritas dari kita.

Jadi bagaimana kita melakukan marah yang baik, benar dan ”berkualitas” ? Dalam arti, melalui proses marah itu, kita dapat mencapai suatu tujuan yang kita harapkan dan bukan malah menghancurkan relasi yang sudah kita bina.

Kembali, marah yang tepat dan benar seperti banyak hal lainnya dalam hidup, memerlukan strategi.

Ada 3 langkah yang perlu kita lakukan agar dapat mencapai ”hasil” yang positif dari marah kita:

  1. Miliki alasan yang benar untuk marah

Jika kita terjebak dalam kemacetan di tengah lalu lintas Jakarta pada saat kita berangkat kantor pagi hari. Lalu kita merasa marah karena terjebak tak berdaya dan membuat kita akan terlambat masuk kantor hari itu, maka itu adalah marah yang tidak ada gunanya. Marah karena suatu alasan yang tidak tepat. Marah atas sesuatu yang diluar kontrol kita. Macetnya lalu lintas adalah hal yang diluar kontrol kita. Yang dapat kita lakukan adalah mengontrol jam berapa kita mau berangkat kantor agar dapat terhindar dari macet.

Memiliki alasan yang benar berarti kita marah karena sesuatu yang memang patut untuk marah. Sesuatu yang ada dalam batasan kontrol kita. Sesuatu yang merupakan moral baik yang patut dipertahankan. Ada yang ingin dicapai dalam marah itu, yang merupakan hal baik yang benar yang harus kita tegakkan karena itu ada dalam batas kontrol dan otoritas kita.

Jika kita marah karena tiba-tiba ada orang yang menyelak antrian di kasir supermarket, dengan alasan, bahwa orang tersebut tidak mengerti tata tertib mengantri dan kita menegur dengan tegas dan sopan bahwa orang tersebut harus masuk dalam antrian, itu adalah hal yang tepat untuk dilakukan.

Namun jika kita marah dan mencaci maki orang tersebut karena harga diri kita tersinggung, karena kita dianggap bukan siapa-siapa oleh orang itu, sehingga orang itu ”berani” menyelak antrian didepan kita, maka marah kita itu adalah salah dan sama sekali tidak berguna.

Sehingga seperti banyak hal lainnya, yang membedakan apakah marah tersebut benar, tepat dan berguna adalah apa yang menjadi motivasi, landasan, latar belakang kita untuk marah. Penting sekali memiliki kejelasan (clarity) akan apa penyebab kita marah sehingga kita dapat memberikan penilaian, perlukah kita marah atau benar tidakkah tindakan kita untuk marah.

Sehingga, betapa kompleksnya marah itu. Marah yang sama, terhadap orang yang sama, bisa jadi berbeda. Dalam contoh kasus orang yang memotong antiran diatas, yang pertama, kita marah untuk menegur orang tersebut untuk mengerti makna mengantri, kita menegur dengan tegas dan sopan. Marah yang kedua, hanya karena ego kita yang tersinggung, kita marah dengan cara yang kampungan dan orang yang dimarahi juga mungkin tidak akan terima, yang ada malah berkelanjutan dengan debat mulut atau perkelahian yang memalukan.

Sehingga untuk satu kasus yang memang harus marah, marah itu sendiri dibedakan oleh alasan/motivasi kita marah. Dan juga bagaimana cara kita mengeluarkan/menyampaikan kemarahan tersebut.

 

  1. Mengetahui cara yang benar untuk marah

Cara marah yang benar akan membuat orang terhadap siapa kita marah, mengetahui kesalahannya, merasa malu dan bersalah akan kesalahannya dan menimbulkan tekad untuk memperbaikinya.

Sebaliknya, cara marah yang salah, membuat orang terhadap siapa kita marah  merasa marah, bahkan lebih marah, diiringi dengan rasa sakit hati kadang malah ada dendam. Sehingga marah tersebut tidak tercapai tujuannya, justru  menimbulkan masalah baru yaitu adanya sakit hati dan rasa ingin membalas dari orang terhadap siapa kita marah.

Jadi bagaimana, supaya kita marah yang baik dan mencapai tujuan marah tersebut?

Tentu nomor satu, harus adanya alasan yang tepat untuk marah. Alasan yang terhormat dan benar.

Kedua : Perlu dikatakan di awal proses bahwa kita sedang marah. Ya, marah perlu minta ijin. Hal ini umumnya adalah jika kita hendak marah pada orang dekat kita, misal terhadap keluarga (suami, istri atau anak). Katakan di awal bahwa, kita sedang minta waktu untuk bicara serius karena ada sesuatu yang mengganjal dan bahwa kita sedang marah akan sesuatu. Tentu ada resikonya, jika orang yang mau kita ajak bicara dan melampiaskan marah kita sedang tidak berkenan (misal suami berkata bahwa dia sedang capek dan tidak mau diganggu) maka mau tidak mau, kita harus menahan marah kita dan meminta waktu, kapan momen yang tepat untuk membicarakan kemarahan kita.

Begitu juga dengan anak. Saya lihat, sering sekali orangtua teriak-teriak tidak jelas. Sang anak bahkan tidak mengerti apakah orang tua sedang marah atau apa, berhubung cara bicara yang teriak-teriak sudah menjadi kebiasaan. Biasakan untuk memanggil anak kita, secara pribadi, tidak didepan kakak atau adiknya, bicarakan dengan serius, bahwa Anda sedang marah. Dan yang membuat Anda marah adalah apa. Bicarakan cukup dengan nada serius. Sehingga anak sejak dari kecil akan menghargai orangtuanya. Tidak perlu berbicara terus menerus dengan nada tinggi bahkan teriak.

Jika marah terhadap orang lain,  Anda juga perlu ungkapkan diawal. Bahwa ada hal serius yang hendak kita dibicarakan, ada sesuatu yang serius yang membuat kita marah dan kita hendak bicarakan kemarahan itu dengan orang tersebut.

Dan yang ketiga, memiliki cara marah yang benar, dengan sopan santun yang tetap harus dijaga. Marah berbeda dengan mengamuk. Marah berarti kita mengeluarkan hal yang tidak kita setujui atau sesuatu yang kita anggap tidak benar, dengan cara yang elegan dan terhormat. Setiap orang mungkin punya cara yang berbeda. Tapi dengan menguasai diri kita saat marah, maka marah tidak menjadi proses mengamuk, melainkan memampukan kita menyampaikan secara tenang dan jelas setiap point yang membuat kita marah sehingga permasalahan menjadi jelas. Dan pihak yang kita ajak bicara akan lebih mengerti point permasalahan yang membuat marah dan akan lebih mudah tercapai proses negosiasi menuju solusi yang menyebabkan kemarahan tersebut.

  1. Melakukan proses negosiasi

Setelah mengungkapkan dengan jelas, tenang dan terkontrol maka langkah selanjutnya masuk ke tahap negosiasi. Lalu setelah kita mengungkapkan apa yang membuat kita marah, kita mau apa? Hal apa yang kita harapkan berbeda? Hal apa yang perlu disepakati antara kita dengan orang tersebut akan hal yang tidak kita setujui tersebut?

Jika kita marah dengan anak, maka kita mengulangi kembali, peraturan apa yang telah dilanggar anak kita. Apa yang kita harapkan di kemudian hari untuk tidak terjadi lagi.

Dengan pihak lain, tentu tidak sedemikian sederhana. Kita tidak bisa memaksakan apa saja yang kita mau untuk dituruti oleh pihak lain. Ada kalanya perlu ada proses perundingan dan negosiasi, sehingga ada kesepakatan bersama, agar jika terjadi situasi seperti itu lagi di kemudian hari, bagaimana kita akan bereaksi dan bagaimana ekspektasi reaksi kita dari orang tersebut.

Segala hal memang mudah untuk ditulis dan dibaca. Namun sangat sulit untuk dilakukan. Perlu latihan dan terus melatih kepekaan diri sehingga kelak kita akan mempunyai remote control yang bagus atas emosi kita. Dan ini jelas merupakan proses belajar seumur hidup, hari lepas hari, kasus lepas kasus.

Kuncinya adalah memiliki ”teachable heart”. Jika kita memiliki kerendahan hati untuk mau belajar maka walau mengalami jatuh bangun, walau kita tidak langsung bisa, menguasai dan berhasil, paling tidak kita belajar. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. Jika kita marah saat ini, paling tidak, cara marah kita ada kemajuan dibanding kemarahan kita yang terakhir.

Satu hal tambahan, marah yang tidak terkontrol menjadi salah satu penyebab banyak sekali konflik dalam pernikahan yang mengakibatkan adanya sakit hati mendalam dan berkepanjangan bagi salah satu pihak. Pihak yang lemah, yang berpasangan dengan pihak yang dominan, ditambah pihak yang dominan memiliki tendensi untuk control berlebihan akan menyebabkan tekanan yang besar bagi pasangan yang lemah. Marah menjadi salah satu bentuk verbal abuse yang menimbulkan luka mendalam bagi pihak yang lemah. Dan terkadang, jika sudah menahun, menimbulkan kesulitan besar untuk rekonsiliasi. Sadarilah sejak dini jika kita bermasalah mengontrol kemarahan kita.

Jika dari diri sendiri sudah kehilangan kemampuan untuk berubah, usahakan cari pertolongan dari Konselor Profesional. Kemarahan yang berlebihan, akan menyebabkan salah satu pasangan hidup menjadi ”gerah” dan lambat laun ingin keluar dari perkawinan.

Banyak sekali isue terkait dalam pribadi yang mudah marah tanpa dapat mengontrol diri saat marah. Mulai dari kepahitan diri sendiri, dibesarkan dari pola asuh keluarga yang pemarah, masalah citra diri, masalah visi dan tujuan hidup, perasaan gagal, kecewa, dilukai, tidak dihargai sampai kepada masalah fisik, misalnya ada tendensi punya tensi darah yang diatas rata-rata. Dalam kasus yang lebih parah lagi, tidak hanya marah verbal tapi sampai kepada pelampiasan secara fisik kepada orang-orang terdekatnya.

Sekali lagi jangan khawatir jika kita marah. Yang terpenting memiliki kepekaan hati untuk menganalisa apa motivasi kita marah, bagaimana cara kita mengeluarkan kemarahan dengan tepat serta memiliki keterbukaan hati dan pikiran untuk bernegosiasi dengan pihak terhadap siapa kita marah sehingga marah tersebut dapat menemukan solusi yang disepakati oleh keduabelah pihak.

Dan ketika marah kita sudah menjadi masalah dalam pernikahan, membuat pasangan kita gerah , ilfill bahkan takut, maka segeralah mencari pertolongan Konselor Profesional, sebelum api cinta itu benar-benar padam.  Karena marah yang parah sudah berpotensi menjadi “pembunuh” karakter bagi pasangan yang ada dalam posisi tertindas dalam pernikahan, yang bisa menyebabkan kapok dan lebih memilih untuk bercerai.  Karena itu sebelum kondisi menjadi parah dan tak tertolong, segeralah mencari solusi permanen dari Konselor Diri dan Konseling Pernikahan yang berpengalaman.

Salam Sejahtera,


Elly Nagasaputra, MK, CHt

Personal & Marriage Counselor
www.konselingkeluarga.com

www.konselingpernikahan.com

-healing hearts-changing life-


Info Kontak

Hubungi Kami untuk jasa konseling profesional.

elly@konselingpernikahan.com | SMS/ WA: 0818 - 0653-0253 | Pin BB No : 57130E38