• konseling pernikahan
  • konseling keluarga

3. Konseling? Malu ah…….

Di luar negri, khususnya di Amerika, memiliki Konselor pribadi adalah hal yang umum.  Setiap orang secara individu maupun keluarga, ataupun sebagai professional yang bekerja pada suatu organisasi umumnya memiliki referral yang baik, kemana mereka harus pergi jika mengalami tekanan atau masalah dalam hidup. Datang ke ruang Konseling merupakan hal yang jamak dan nyaman bagi mereka. Baik dengan nama Counselor,  Psychologist, Psychiatrist bahkan juga praktek-praktek Psychic. Bahkan menurut APA (American  Psychological Association) ada 56 jenis spesialisasi psikolog dalam organisasi tersebut. Ada juga ACA (American Counseling Association) dan banyak lagi organisasi lain. Jika Anda klik di google, akan muncul begitu banyak organisasi Konselor Profesional yang tersedia untuk membantu masalah kita.


Di Indonesia, Konseling dan Psikotherapy belumlah merupakan hal yang umum. Mungkin cukup di kenal di agama tertentu, yaitu Kristen, yang mana pada umumnya merupakan Konseling Pastoral yang disediakan oleh gereja.

Namun, Konseling secara umum belum dikenal masyarakat. Masyarakat mungkin mengetahui adanya BK (Bimbingan dan Konseling) yang sering disediakan oleh sekolah-sekolah, baik swasta maupun negri. Namun, guru BK pun sekarang nampaknya sudah kehilangan peran yang jelas dalam kurikulum sekolah. Psikologpun tidak merupakan hal yang akrab bagi orang Indonesia. Biasanya kunjungan ke Psikolog hanya seumur hidup beberapa kali, pada umumnya jika menjelang lulus SMA, ke Psikolog karena dianjurkan oleh sekolah untuk test minat dan bakat. Atau saat mau masuk kerja, karena persyaratan harus menempuh dulu test psikologi.

Sehingga praktis, dalam kehidupan kita, jarang sekali bersinggungan dengan pihak luar yang profesional dan terbekali dengan ilmu yang memadai, baik dengan nama Konselor atau Psikolog, dalam menghadapi pergumulan hidup kita sehari-hari.

Salah satu alasan karena budaya Indonesia, yaitu budaya timur yang cenderung malu dan tertutup. Dianggap bahwa setiap keluarga jika memiliki masalah,  itu adalah masalah sendiri dan sering  juga dicari solusinya. Dibiarkan saja, dengan harapan dengan berjalannya waktu, masalah bisa selesai sendiri.  Dengan anggapan, kalau sudah berkeluarga, maka timbulnya masalah adalah jamak dan tidak usah dilakukan tindakan apa-apa. Dan juga karena faktor spiritualitas. Karena umumnya, masyarakat Indonesia rajin beribadah. Lalu menganggap masalah-masalah itu didoakan dan diserahkan kepada Tuhan untuk dibukakan jalan keluarnya. Tentu tidak salah.
Namun, jika kita menderita sakit katakanlah sakit kepala berkepanjangan. Telah berusaha memakan obat yang ada. Namun, sakit kepala itu masih terus menganggu, apakah kita hanya berdoa, memohon Tuhan menyembuhkan? Apakah kita merasa perlu, selain mengandalkan kemurahan Tuhan untuk menyembuhkan, juga pergi ke dokter yang handal? Tentu jawabannya adalah iya. Mengapa? Karena Tuhan membekali kita dengan pikiran bahwa pergi ke dokter juga merupakan  salah satu jalan yang disediakan Tuhan untuk kita mendapatkan kesembuhan. Dokter adalah “alat” yang Tuhan pakai untuk memberikan kesembuhan fisik.

Jika itu dilakukan oleh kita yang mengalami masalah fisik, apa yang kita lakukan jika kita mengalami masalah dalam hati, jiwa dan pikiran kita? Mengapa kita enggan mencari pertolongan profesional yang dapat dipercaya, untuk membantu kita menemukan solusi yang tepat dan mengakomodasi potensi dalam diri kita untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan agar dapat meraih hidup yang lebih berkualitas?

Belum lagi jika ditambahkan, Konseling memerlukan biaya. Membuat orang tambah malas dan enggan datang Konseling. Kebanyakan dari kasus yang saya alami, orang yang datang ke ruang Konseling adalah orang yang sudah kepepet. Kalau diibaratkan penyakit, sudah kanker stadium IV bahkan V. Dalam kondisi seperti itu, biasanya dokter akan menyarankan pasien untuk pulang kerumah dan menikmati apa saja yang mau dinikmati. Mengapa? Karena sudah tidak banyak langkah penyembuhan yang bisa dilakukan.

Begitu juga dengan Konseling. Jika klien datang, dengan kasus yang sudah sangat parah, Konseling menjadi upaya yang amat sulit dilakukan untuk mencapai pemulihan. Bukan berarti tidak ada harapan. Tentu senantiasa ada harapan. Namun butuh ekstra kesabaran dan usaha yang lebih mendalam.
Misalnya, jika Klien datang dengan keluhan komunikasi yang tidak nyambung dengan suami, maka menemukan solusinya akan jauh lebih mudah daripada Klien yang datang dengan  keluhan suaminya sudah berselingkuh bahkan sudah punya anak dari selingkuhannya.
Waktu juga berperan. Datang dengan mengeluhkan hal yang tidak enak yang dirasa sudah mengganggu  relasi suami istri selama 2 bulan tentu lebih mudah daripada datang dengan mengeluhkan hal yang sudah mengganjal dihati selama 12 tahun.
Sehingga, alangkah baiknya jika kesadaran untuk Konseling senantiasa ada. Begitu kita rasa ada yang tidak beres, kita segera mencari pertolongan pihak ketiga, yang terbekali secara profesional. Sehingga rahasia masalah aman, namun juga segera bisa mendapatkan iluminasi akan jalan keluar yang terbaik.

Masalah hidup kita sekarang sangat kompleks. Jika dibanding dengan 5 tahun yang lalu saja, sudah berbeda sangat jauh. Karena tingkat stress hidup yang tinggi ditambah kompleksitasnya setiap masalah. Ditambah lagi setiap manusia adalah unik dengan sifat dan karakter masing-masing. Belum lagi dengan standar moral yang semakin menurun, dan adanya pola hidup yang menginginkan segala sesuatu yang instan. Membuat keruwetan dalam berumah tangga semakin berkali lipat.

Bukan hanya sekadar masalah keluarga, konflik suami-istri, orangtua-anak, anak-menantu, tapi lebih luas dari itu. Konflik diri saja sudah menimbulkan banyak masalah. Orang yang sering berganti pekerjaan karena merasa tidak puas dan tidak cocok dimana-mana, orang yang selalu merasa ketakutan akan masa depan, orang yang minder dan menutupinya dengan menonjolkan kekayaan pribadi, orang yang bermasalah mengontrol emosi, orang yang tidak mampu menunjukkan emosinya, orang yang bermasalah dengan berat badan, orang yang ada dimanapun selalu konflik dengan orang lain, orang yang merasa sulit menemukan pasangan hidup dllnya.

Betapa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik, jika semua individu punya kesadaran dan kepekaan yang tinggi, bahwa jika ada yang tidak beres dalam dirinya, segera mencari pertolongan. Dan yang terpenting, berani bayar harga untuk menempuh hidup yang lebih baik.
Segala hal dimuka bumi ini, yang baik, akan ada konsep bayar harga. Tidak ada hal baik yang gratis, kecuali misal udara dll yang memang Tuhan berikan. Namun diluar hal itu, semua perlu membayar harganya. Untuk memiliki relasi yang baik dan sehat juga perlu untuk bayar harga. Untuk bertemu dengan Konselor Profesional untuk perbaikan taraf hidup dan perbaikan relasi suami istri juga jelas harus bayar harga. Baik bayar harga secara materi dan juga non materi.
Bayar harga materi jelas yaitu uang. Bayar harga non materi yaitu harus meluangkan waktu dan tenaga serta mau berusaha. Usaha untuk apa? Yang terutama adalah usaha untuk mau berubah. Berubah adalah tidak enak. Berubah adalah keluar dari zona yang kita rasa aman dan nyaman. Namun sering kali, lewat proses psikoterapi dalam menganalisa kasus Klien, seringkali Klien harus mau berubah, berubah dari satu paradigma ke paradigma yang lain dalam rangka menemukan solusi masalah dan berkomitmen untuk melakukan perubahan radikal baik dalam pola pikir maupun pola tingkah laku. Tanpa keberanian untuk bayar harga, proses Konseling sekadar hanya menjadi ajang curhat yang tidak jelas, tanpa mencapai tujuan akhir yang diinginkan. Satu lagi, berubah tidak instan. Perlu waktu. Waktu adalah esensial dalam proses Konseling. Manusia sangatlah unik. Tidak ada Klien yang datang konseling satu atau dua kali lalu tercapai apa yang diinginkan. Semua memerlukan proses yang tidak singkat. Proses mengupas kehidupan Klien adalah seperti mengupas bawang. Manusia punya banyak layer yang menyembunyikan dirinya yang asli. Ada begitu banyak denial dan self-defence yang harus dirobohkan satu demi satu oleh bimbingan Konselor.  Jadi satu lagi, selain bayar harga secara materi juga waktu dan terutama punya modal komitmen untuk mau mencapai hasil yang optimal.

Memiliki Konselor Pribadi yang dipercaya, akan membuat roda kehidupan kita lebih lancar. Karena kita diperkuat adanya suatu sumber daya lain untuk dapat melihat kehidupan dengan lebih jernih, mampu mengambil tindakan untuk menemukan solusi permanen dari masalah yang ada serta mengasah kepekaan kita sehingga jika kelak ada lagi masalah yang datang, kita telah diperlengkapi dengan skill yang memadai untuk dapat mengatasinya dengan tenang dan baik.

Salah satu tempat bergantung kita tentu Tuhan. Dan Tuhan berbicara melalui berbagai media atau alat. Alat tersebut bisa berupa orang-orang yang Tuhan letakkan disekeliling kita. Bagaimana kita peka dengan menemukan apa yang Tuhan berikan di sekeliling kita untuk menolong kita, akan membuat hidup terasa bermakna. Bukankah pada akhir perjalanan, yang kita inginkan adalah hidup yang bermakna? Bagi Tuhan, bagi keluarga, bagi orang-orang yang mencintai kita, bagi orang-orang yang kita cintai. Dan kalau bisa, dalam jangkauan yang lebih luas lagi, bagi bangsa, negara bahkan dunia.

Visi saya adalah agar Konseling, bisa merupakan suatu gaya hidup. Jika Konseling merupakan gaya hidup, maka kita dapat mengharapkan adanya edukasi akan  bagaimana membina hidup diri dan keluarga yang lebih efisien dan efektif. Sehingga mencegah lebih banyak keluarga yang hancur karena perselingkuhan - anak-anak yang terlantar dan kecewa pada hidup bahkan pada Tuhan, karena tidak diperhatikan oleh orang tua – anak yang karena kecewa dan  melarikan diri pada drugs dan kekerasan - suami atau istri yang kecewa pada pasangan hidup - orang tua yang sakit hati karena perlakuan anak - menantu yang dendam tak berkehabisan pada mertua.  Rasa diri gagal, pahit hati yang berkepanjangan, rasa tidak aman, rasa malu, rasa rendah diri, rasa kesepian yang selalu ada. Semua itu dapat tertolong, jika kita peka. Mau menjadikan Konseling sebagai suatu gaya hidup. Dan bukan itu saja, generasi berikut, dibawah kita, akan bersyukur, jika mereka bisa dibesarkan dengan cara yang benar. Sehingga kita boleh lega karena telah mewariskan teladan hidup  yang benar pada anak cucu kita.

Hilangkanlah malu atau segan. Mulailah kita tebarkan, bagaimana Konseling menjadi suatu gaya hidup yang kita perlukan. Tidak ada orang yang mampu dan kuat hidup sendiri menanggung banyak perkara.

Salam Sejahtera,
Elly Nagasaputra, MK, CHt
Personal & Marriage Counselor
www.konselingkeluarga.com
-healing hearts-changing life-


Info Kontak

Hubungi Kami untuk jasa konseling profesional.

elly@konselingpernikahan.com | SMS/ WA: 0818 - 0653-0253 | Pin BB No : 57130E38